Masalah?
Mendengarnya saja ingin kubuang jauh - jauh
Tidak ada orang yang hidupnya ingin diikuti masalah
Namun nyatanya masalah itu selalu ada di kehidupan seseorang
Ia datang tanpa memberikan solusi
Ia datang memberikan kita sebuah pembelajaran
Ketakutan?
Ia selalu mengikuti masalah
Dimana masalah ada, disana juga lah ketakutan kita temukan
Namun siapa yang menyangka,
ketakutan itu timbul dari diri kita sendiri
khawatir akan sesuatu yang tidak pasti akhirnya
dan membuat hidup kita menderita
Kasih?
Ia membantuku meringankan beban ini
Masalah memberikan kita beribu beban
Kasih ada untuk menghapus semua itu
Menghapus semua ketakutan yang ada
Ia memberikan kedamaian dimana ada kegelisahan.
7 December 2014
Calvina Adrilia
Aku duduk terdiam, sendiri disini
Dengan berbagai tanya dibenakku
Mengenai apa yang telah terjadi di hidupku
Terkadang aku bersyukur dengan hidup yang diberikan Tuhan kepadaku
Namun berbagai pertanyaan muncul di benakku
Saat masalah itu datang
Dan memberikan sedikit warna kelam di dalam hari - hariku
Bertanya mengapa Ia tega mengizinkan hal itu terjadi
Tidak bisakah Ia mencegahnya?
Aku hanya manusia biasa
Sama seperti mahkluk lainnya
Yang menginginkan kehidupan indah seperti cerita dongeng
Memiliki akhir yang indah dan bahagia
Namun, apa dayaku?
Semua hanyalah khayalan belaka
Hidup adalah sebuah misteri
Hanya akan membuah kita menerka - nerka
Akhir cerita dari sebuah kehidupan
21st November 2014
Calvina Adrilia
Halo, apa kabarmu?
Ketakutan hati ini membuatku bisu.
Aku hanya duduk diam dan menanti.
Berharap pesan yang masuk itu darimu.
Dia sesosok yang telah membuatku jatuh kembali.
Ekspetasi membuat hati ini bertanya - tanya.
Akankah dia yang kucari?
Akankah hati ini tertuju padanya?
ataukah ini hanya emosi sejenak?
Semua pertanyaan itu muncul di benakku.
Pikiranku sejenak terhenti.
Darahku sekejap menjadi beku.
Bulan bintang apakah aku salah?
Apakah aku terlalu cepat jatuh?
Aku hanya ingin sesosok itu selalu ada.
Mungkin aku egois
Namun aku tidak bisa berbuat apa - apa.
Aku ingin sebuah jawaban dari tanyaku.
Sebelum semakin dalam dan larut.
Akankah aku mendapatkan jawaban itu?
Atau hanya keraguan yang aku terima.
Dengan segala ekspetasi di benak ini.
Malam tanpa suara,
Calvina Adrilia
Aku terduduk diam di suatu tempat yang hening dan kosong. Terngiang di benak ini, segala hal indah bersamanya. Layaknya sebuah momen yang ditangkap disebuah kamera. Berharga dan bermakna.
Hari - hari yang kujalani seraya berada di padang yang bertumpukan bunga - bunga. Berjalan dalam setapak menuju pusat padang itu tanpa sadar terlarut dalam keindahannya.
Mungkin aku terlalu yakin dengan apa yang aku lihat atau aku terlalu takut untuk merasakan kehilangan itu. Aku berdiri di sana dan menanti sebuah tanya. Satu kata yang mungkin dapat mengubah hari - hari dan hidup ku. Membayangkannya saja aku tak mampu.
Dan ketika kata tak dapat mengungkapkan segala hal yang ada di benak dan perasaan ini, akankah aku mendapatkan jawabannya?
Malam tanpa suara di penghujung akhir bulan sepuluh,
Calvina Adrilia
30.10.14
Cuaca
cerah menyambut pagi yang indah ini. Kicauan burung dan matahari yang menyinari
tidak henti – hentinya bergembira. Lain halnya dengan Angel. Yah, Angel
namanya. Seorang yang ditinggal oleh kedua orangnya karena hal yang mengenaskan
itu. Peristiwa itu membuat Angel selalu menutup dirinya. Memilih bungkam dan
berdiam itulah yang dilakukannya 2 tahun belakangan ini.
Dahulu
Angel adalah anak yang periang. Ia tidak pernah lupa tersenyum kepada semua
orang yang ia temui. Banyak orang yang menyayanginya dan memberikan kasih
sayang. Ia bahagia akan itu. Sayangnya sekarang hidupnya serasa ditimpa batu
yang keras. Setelah kedua orang tuanya meninggal di dalam kecelakaan pesawat
itu, ia menjadi berubah. Angel yang dulu bukanlah Angel yang sekarang. Ia
selalu menyendiri, bahkan ia menutup diri dari orang – orang. Ia merasa bahwa
dunia tidak adil baginya.
Berbagai
cara dilakukan agar Angel kembali menjadi seorang yang periang, tetapi
sayangnya tidak ada yang pernah berhasil meyakinkan Angel. Ia seperti orang yang
sakit sekarang. Aku sebagai teman baiknya merasa tidak sepantasnya ia seperti
itu. Pilu dan pedih selalu menyelimutiku apabila melihat keadaan Angel
sekarang. Teman sebangkuku sekarang kosong karena Angel tidak pernah kembali
bersekolah lagi. Aku terus bertanya – Tanya di dalam hati kenapa orang sebaik
Angel bisa mendapat musibah seperti itu.
Suatu
hari aku memberanikan diri untuk menemui Angel dirumahnya. Rasa rindu padanya
begitu meluap ketika aku menginjakan kaki di depan rumahnya. Selain itu banyak
pertanyaan yang tergiang di otakku. Apa yang akan ia lakukan ketika ia
melihatku? Apa ia akan marah kepadaku? Atau ia memilih diam sambil melihat ke
arahku. Aku memberanikan diri untuk memencet bel rumahnya. Terlihat Mbok Ina
pembantu kepercayaan keluarga Angel membukakan pintu kepadaku. Sudah lama aku
tidak melihatnya. Ia terlihat sudah menua. Keriput mulai menyelimuti mukanya
yang terlihat suntuk.
Mbok Ina
mempersilahkan aku untuk masuk ke dalam. Ia selalu menyambutku dengan ramah.
Kemudian aku melangkahkan kakiku ke dalam rumah itu. Rumah yang besar dan
tertatah rapi. Tidak lama aku melangkah, terlihat seseorang duduk di pojok
tangga dengan muka ketakutan. Tubuhnya yang kurus dan mukanya yang pucat
seperti tidak terurus. Aku sangat kaget melihatnya. Ia terlihat seperti orang yang sakit parah. Ternyata
itu Angel. Angel temanku yang kusayang, Ia terlihat seperti tidak mengenaliku.
Aku tahu ia begitu sedih, tetapi mengapa sampai seperti ini keadaannya?
Aku
mencoba mendekatinya dan berbicara kepadanya. Sayangnya, Angel mencoba menjauh
sebisa mungkin. Ia tidak mengenaliku, teman sebangkunya yang selalu ada di
sisinya. Aku bertanya kepada Mbok Ina akan kondisi Angel yang semakin parah
ini. Sejak saat itu kuputuskan untuk setiap hari mendatangi Angel dan membantu
memulihkan dia dengan kasih sayang yang aku punya sebagai teman baiknya. Aku
yakin Angel akan kembali pulih, tentunya dengan kesabaran dan waktu yang
relative tidak singkat.
Angel
bukanlah orang yang gila, ia hanya seorang korban dari kenyataan takdir yang
menyakitkan. Ia hanya belum siap untuk menerima kenyataan bahwa orang yang
disayanginya telah tiada untuk selamanya. Waktu tidak terhenti, ia akan terus
berjalan. Cepat atau lambat semua orang akan tiada. Tidak ada yang bisa
disalahkan, itulah takdir hidup. Siap atau tidak , mau atau tidak ia tidak
dapat memberikan pilihan.
Calvina Adrilia
Apabila setiap kebaikan di lambangkan dengan setitik cahaya.
Seterang apakah hidup kita?
Apabila setiap kejahatan di lambangkan dengan mematikan sebuah cahaya.
Segelap apakah hidup kita?
Mengapa? Mengapa kebaikan itu dipandang hanya sebelah mata.
Setiap kebaikan yang telah kita buat akan redup dengan kejahatan yang ada, meski kejahatan itu hanya setitik.
Bagaimana kita menghindarinya?
Cara apa yang bisa kita lakukan untuk tetap mengisi lentera jiwa ini.
Aku hanya ingin diam dan menghentikan waktu, sehingga lentera jiwa ku ini akan terus menyala.
Malam yang sunyi,
29 Agustus 2014
Calvina Adrilia